Example floating
Example floating
Lampung Tengah

Pasis Sesko AD Susun Strategi Komprehensif Cegah dan Tangani Karhutla di Lampung

MEDIA PRABU
39
×

Pasis Sesko AD Susun Strategi Komprehensif Cegah dan Tangani Karhutla di Lampung

Sebarkan artikel ini

Lampung Tengah: Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di wilayah Provinsi Lampung seiring datangnya musim kemarau dengan curah hujan yang sangat rendah.

Menjawab tantangan ekologis dan keselamatan warga tersebut, sebanyak 79 Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SeskoAD) diterjunkan langsung ke lapangan dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan Wilayah Pertahanan (KKL Wilhan) selama 10 hari.

Kehadiran para perwira siswa TNI AD ini membawa misi strategis, tidak hanya sekadar memetakan potensi kerawanan teritorial, tetapi juga membangun benteng pertahanan berbasis masyarakat melalui program penyuluhan, edukasi intensif, dan penguatan sinergitas antarinstansi untuk menanggulangi serta mencegah bencana karhutla hingga ke akar rumput.

Mayor Frans Sirait selaku perwakilan Pasis Dikreg LXVIII SeskoAD menjelaskan bahwa 79 personel pasis disebar secara taktis ke berbagai kawasan vital di Provinsi Lampung, yang mencakup Pesisir Barat, Lampung Timur, Lampung Selatan, hingga Lampung Tengah.

Penempatan ini disesuaikan dengan karakteristik kerawanan masing-masing wilayah.

Kawasan Pesisir Barat difokuskan pada perlindungan hutan lindung dari praktik pembakaran lahan.

Lampung Timur difokuskan pada pengawasan lahan gambut dan vegetasi kering di sekitar pemukiman.

Baca Juga :  DPW IPM 08 Lampung Laporkan Budi Arie ke Polda, Abdul Razak Elite Politik Jangan Bikin Rakyat Gaduh

Lampung Selatan diarahkan pada antisipasi area perlintasan dan pertanian padat vegetasi.

“Sementara itu, Lampung Tengah difokuskan pada penanganan area perkebunan luas yang rawan krisis air. Khusus di wilayah Lampung Tengah, terdapat empat personel pasis yang mengusung misi penyuluhan terpadu,” kata Mayor Frans Sirait, Kamis (3/9/2026).

Mereka bekerja sama secara intensif dengan jajaran Komando Distrik Militer (Kodim), kepolisian setempat, dinas kehutanan atau Polisi Hutan (Polhut), serta para tokoh masyarakat lokal.

Mayor Frans Sirait menegaskan bahwa pendekatan utama yang diusung oleh para pasis SeskoAD menitikberatkan pada peningkatan kepedulian masyarakat (community awareness) dalam dua fase krusial, yaitu fase pra-bencana sebelum kebakaran terjadi serta fase tanggap darurat saat api mulai menyebar.

“Kami di sini lebih mengutamakan untuk mengangkat kepedulian masyarakat tentang bagaimana cara menangani dan mencegah pada saat sebelum terjadinya kebakaran sampai dengan apabila terjadinya kebakaran. Dengan adanya kepedulian masyarakat yang bersinergi dengan TNI, Polri, serta seluruh instansi, diharapkan kita dapat mencegah kebakaran yang lebih parah,” ujar Mayor Frans Sirait.

Baca Juga :  Warga Menuding Ada Udang di Balik Batu Terkait Dugaan Limbah Pabrik PT BPK Desa Nadung

Menurutnya, ketidaktahuan masyarakat mengenai prosedur penanganan awal sering kali membuat percikan api kecil membesar menjadi kebakaran hebat yang sulit dikendalikan.

Oleh karena itu, penyuluhan langsung menjadi kunci utama dalam memutus rantai risiko karhutla.

Strategi dan Edukasi Penanggulangan di Lapangan
Dalam pelaksanaan edukasi di lapangan, para perwira siswa membekali masyarakat dengan pemahaman mengenai akses dan sistem pelaporan terpadu.

Warga diberikan informasi serta nomor kontak darurat aparat kewilayahan, seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga Polisi Hutan (Polhut), agar mereka mengetahui ke mana harus melapor secara cepat saat menemukan titik api awal.

Selain itu, masyarakat juga dibekali panduan teknis penanganan mandiri untuk memadamkan api secara cepat menggunakan alat seadanya sebelum tim pemadam gabungan tiba di lokasi.

Seluruh rangkaian edukasi ini dirancang untuk memperkuat sinergitas antara TNI, Polri, Polhut, Pemda, dan warga sebagai barisan terdepan penjaga lingkungan.

Salah satu terobosan strategis yang ditekankan oleh Mayor Frans Sirait adalah pemanfaatan siklus musim secara bijak.

Berdasarkan evaluasi kondisi iklim, wilayah Lampung kerap mengalami kemarau panjang dengan curah hujan yang sangat rendah, sehingga memicu kekeringan pada sumber-sumber air alami.

Baca Juga :  Sidang Dakwaan Kasus Kematian Andika Sanjaya Digelar, Robah Arifin Didakwa dalam Empat Alternatif Pasal

Menyikapi hal tersebut, para pasis mendorong warga untuk secara gotong royong membangun lumbung air atau embung penampungan saat musim hujan masih berlangsung.

“Ketika musim hujan tiba, kita harus bersiap dengan membuat penampungan atau lumbung air. Ketika musim kemarau datang dan kebakaran melanda, kita tidak lagi kesulitan mencari sumber air yang cukup untuk memadamkan api di hutan maupun perkebunan,” jelas Mayor Frans.

Di akhir penjelasannya, Mayor Frans Sirait menyampaikan harapan besar dari jajaran Pasis Dikreg LXVIII SeskoAD agar kegiatan KKL Wilhan selama 10 hari ini memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan wilayah Provinsi Lampung.

Sinergitas yang mantap antara masyarakat, TNI, Polri, serta instansi terkait diharapkan tidak berhenti seiring berakhirnya masa KKL Wilhan, melainkan menjadi kultur kewaspadaan yang terus hidup.

“Harapan kami, dengan adanya kewaspadaan dan kepedulian masyarakat sekitar yang bersinergi dengan TNI-Polri, kita dapat mewujudkan komitmen bersama untuk mencegah sebelum terjadi kebakaran. Kita jaga lingkungan kita agar tetap asri, aman, sehat, dan layak untuk kita tinggali bersama,” tutup Mayor Frans Sirait.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *