Lampung Tengah: Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Provinsi Lampung seiring datangnya musim kemarau ekstrem dengan curah hujan yang sangat rendah.
Menjawab tantangan ekologis tersebut, Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad) menerjunkan sebanyak 79 Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII ke lapangan dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan Wilayah Pertahanan (KKL Wilhan) selama 10 hari.
Wakil Komandan Seskoad (Wadanseskoad), Brigjen TNI Inf Ade Rony Wijaya, meninjau langsung pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang digagas para perwira siswa tersebut.
Menurutnya, langkah ini penting untuk mengedukasi warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Meskipun kondisi di wilayah Lampung saat ini relatif tidak terlalu parah, kita tetap memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan. Mengingat kondisi cuaca mengalami kemarau panjang yang lumayan ekstrem, kesadaran masyarakat sangat penting agar tidak membakar lahan,” ujar Brigjen TNI Inf Ade Rony Wijaya, Kamis (3/9/2026).
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini diselaraskan dengan materi kurikulum mengenai Pemberdayaan Wilayah Pertahanan guna mengenalkan peran TNI Angkatan Darat dalam menjaga wilayah.
Sebaran Taktis di Empat Kawasan Vital
Perwakilan Pasis Dikreg LXVIII Seskoad, Mayor Frans Sirait, menjelaskan bahwa 79 personel disebar secara taktis ke lima titik di berbagai daerah vital yang mencakup Pesisir Barat, Lampung Timur, Lampung Selatan, hingga Lampung Tengah.
Penempatan ini disesuaikan dengan karakteristik kerawanan wilayah:
* Pesisir Barat: Perlindungan hutan lindung dari praktik pembakaran lahan.
* Lampung Timur: Pengawasan lahan gambut dan vegetasi kering di sekitar pemukiman.
* Lampung Selatan: Antisipasi area perlintasan dan pertanian padat vegetasi.
* Lampung Tengah: Penanganan area perkebunan luas yang rawan krisis air (ditempatkan empat personel pasis untuk misi penyuluhan terpadu).
Dalam pelaksanaannya, para perwira siswa berkolaborasi dengan jajaran Kodim, kepolisian, Polisi Hutan (Polhut), serta tokoh masyarakat setempat.
Pendekatan utama difokuskan pada peningkatan kepedulian masyarakat (community awareness) di fase pra-bencana maupun tanggap darurat.
“Kami lebih mengutamakan untuk mengangkat kepedulian masyarakat tentang cara menangani dan mencegah sebelum terjadinya kebakaran sampai dengan apabila terjadinya kebakaran. Dengan sinergi bersama TNI, Polri, dan seluruh instansi, diharapkan kita dapat mencegah kebakaran yang lebih parah,” kata Mayor Frans Sirait, selaku salah satu siswa.
Frans mengatakan, selain membekali warga dengan pemahaman sistem pelaporan cepat ke Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau Polhut serta panduan pemadaman mandiri, para siswa Seskoad juga mendorong solusi jangka panjang.
Salah satu terobosan yang ditekankan adalah pembuatan lumbung atau embung penampungan air saat musim hujan.
“Ketika musim hujan tiba, kita harus bersiap dengan membuat penampungan atau lumbung air. Ketika musim kemarau datang dan kebakaran melanda, kita tidak lagi kesulitan mencari sumber air untuk pemadaman,”
“Melalui program KKL Wilhan ini, kami berharap kultur kewaspadaan dan kemitraan antara TNI, instansi terkait, serta masyarakat terus terbangun demi mewujudkan lingkungan Lampung yang aman, asri, dan bebas karhutla,” jelas Mayor Frans.(*)







